The Old Blog of Andiordi




Saya sadar, setiap orang memiliki cara-cara yang berbeda dalam menempatkan orang-orang yang pernah melewati fase hidup tertentu dalam perjalanan kehidupannya. Sayapun demikian, adakalanya saya perlu menempatkan orang-orang tersayang yang pernah memberi kesan mendalam dalam hidup saya pada ruang-ruang khusus dalam lubuk hati saya. Hingga saatnya saya butuh menemui mereka kembali, saya tinggal memasuki ruang-ruang itu untuk memeluk mereka sesaat saja kemudian kembali memasuki kehidupan nyata. Termasuk didalamnya, keluarga saya yang telah pergi mendahului saya, sahabat-sahabat saya yang sedang menjalani kehidupannya di kejauhan sana, teman-teman terbaik yang pernah memberi saat berbagi hidup dan kebahagiaan, dan masih banyak lagi lainnya.

Kemudian, bagaimana dengan bekas pacar?

Agak dilematis sebenarnya, disatu sisi mereka pernah menjadi bagian hidup saya dalam saat-saat bahagia, tapi kemudian mereka terkalahkan oleh skenario hidup yang menuntut mereka memilih tetap bersama saya memasuki ritme hidup lainnya atau mencari kebahagiaan lain dengan meninggalkan saya. Dan mereka kemudian terlabeli sebagai bekas pacar karena mereka memilih pilihan kedua dengan merelakan saya menjalani fase hidup saya tanpa mereka.

Tapi ternyata, berpindah fase dari hidup bersama ke fase berikutnya yang tanpa mereka memang harus dilalui dengan jalan yang sangat-sangat tidak mudah, boleh dikata untuk fase saya bahkan harus dilalui dengan cabikan-cabikan luka yang kadang membuat saya sangat sulit untuk menjalani kehidupan berikutnya. 

Dalam kondisi ini bagaimana saya menempatkan mereka?

Sebuah buku yang direkomendasikan oleh teman saya berkata, "Satu hal yang harus kita lakukan ketika orang yang dekat dengan kita melakukan kesalahan adalah melihat kembali dia secara keseluruhan. Jika ini adalah kesalahan yang tidak fatal dan terlalu besar, berarti seharusnya tidak masalah. Ada begitu banyak kebaikan darinya yang tentu saja kalau dihitung akan menang telak daripada keburukannya." Memaafkan, mungkin itu kata yang tepat untuk menggantikan kalimat panjang yang saya tulis sebelumnya.

Oke, ambil saja contoh bekas pacar saya yang terakhir ini, saya mencoba melihat kembali dan menelusuri jalan-jalan yang pernah dilewati bersama untuk melihat kisah hidup kami agar dapat dipahami keseluruhannya. 

Dia hadir meminta pelukan disaat 'menurutnya' fase hidupnya sedang berada di nadir terbawah roda kehidupannya, saya kemudian masuk untuk memenuhi kebutuhannya, pelukan, dengan balutan cinta tentunya, cinta saya yang sangat besar hingga membuat saya harus menutup pintu rapat-rapat pada orang-orang yang kala itu sedang mendekati saya dengan berbagai upayanya. Dia menanamkan sebuah paradigma bahwa dia akan berbeda dengan yang lainnya, dan saya hanya bisa berharap semoga itu bukan janji ilusi untuk mengimbangi cinta yang saya punya.

Fase berikutnya terlihat dia juga mulai mencintai saya, maksud saya bukan atas dasar kebutuhan 'pelukan' tadi tentunya, dan dalam fase ini mulai terasa ada alur naik turun laiknya kurva sinus-cosinus yang saat itu seakan sedang melalui jalur yang kontinum. 

Hingga akhirnya kami memasuki fase 'terserah saya', ya memang benar-benar terserah saya, saya yang dimaksud disini adalah literally saya. Artinya, kalo saya masih tahan mari dilanjutkan dan kalau sudah tidak tahan ya silakan tinggalkan, dengan beberapa konsensus baru ketika harus dilanjutkan antara lain; siap untuk ditempatkan diprioritas terakhir karena dia sedang sangat super sibuk dengan aktifitas menyenangkan yang dia punya, siap untuk tidak didengarkan keluhannya, siap untuk tidak dipenuhi kebutuhannya, siap untuk dianggap tidak ada, dan lain-lain-lain sebagainya. Dan sayangnya, saat itu adalah giliran saya yang sedang memasuki fase nadir terbawah dalam kehidupan saya dan saya sangat membutuhkan pelukan dia untuk bisa bangkit kembali menjalani kehidupan berikutnya. 

Kemudian dia pergi, dan yang lebih menyakitkan, dalam kondisinya yang sibuk (katanya pada saya), dia justru mampu mampu memberi prioritas tidak terakhir pada orang barunya. Hahaha... ternyata sibuk yang dia maksud adalah bosan rupanya :)

Bagaimana menempatkan dia dalam hidup saya setelahnya?

Dia pernah berkata, "sebaiknya kita tetap berteman saja." dan hati saya berkata, "setelah semua perih yang dia berikan kepada saya? masih mau berteman saja??"

Dia mengakui betapa menyakitinya apa yang dia lakukan kepada saya, tapi dalam tulisan yang sama dia juga merasa tidak perlu meminta maaf kepada saya, bahkan dia berkata tidak akan pernah meminta maaf, karena sedianya saya sudah memahami tabiatnya yang enggan untuk melakukan permintaan maaf.

Hati saya kembali berkata, "setelah semua perih yang dia berikan kepada saya? masih mau berteman saja??"

Tapi dalam buku itu disebutkan saya harus punya kemampuan untuk bisa memaafkan agar dapat melalui hidup berikutnya dengan damai. Saya berusaha untuk mendamaikan hati, rasa, dan pikir yang ada dalam tubuh saya, ketiganya bersepakat untuk memaafkan tapi juga meninggalkan. Bagi mereka yang harus ditinggalkan, tidak perlu ada ruang khusus yang harus saya sediakan di lubuk hati saya.

Artinya apa?

Artinya, bekas pacar tidak akan pernah berevolusi menjadi teman saya, tidak juga sahabat tentunya :)


-sekian-
10 November 2013 00:53

Categories:

Leave a Reply

Kotak komentar ini sengaja dibuat termoderasi, bukan untuk tujuan membatasi hak anda dalam berpendapat dan berekspresi, tapi lebih untuk menjaga kenyamanan kita bersama (khususnya saya sebagai pemilik blog ini) dalam menikmati kebebasan dunia maya :)