The Old Blog of Andiordi




Kemarin yang dulu, cukup banyak berbincang dengan dua sahabat di dua kota yang berbeda, melalui perangkat genggam a la kadarnya yang saya punya. Mereka adalah dua orang yang sangat memberi energi positif, ditransfer secara sempurna melalui perbincangan hati menyadarkan naluri. Mereka lebih muda dari saya, malu rasanya ketika diusia sematang ini saya justru menjadi recepient nasehat dari orang-orang yang dilahirkan pada rentang periode yang jauh dibawah saya, tapi itulah hidup, dorongan penyadaran tentang kebaikan bisa didapat dari mana saja dan kapan saja. Kadang kebesaran ego yang membuat kita tertahan mendapatkan kebaikan dengan menghadirkan benteng-benteng ilusi yang sebenarnya dibuat oleh pikiran kita sendiri.

Sahabat pertama menekankan tentang pentingnya nilai diri. Betapa manusia kadang terjebak dalam kubangan gelap kesengsaraan hanya karena dia melupakan bagaimana pentingnya mencintai diri sendiri dan berdamai dengan hati.

Tidak banyak orang yang mampu menyadari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat terhadap dirinya sendiri. Apa yang kemudian pernah dilakukan ketika kita sadar bahwa kita telah melakukan penyiksaan-penyiksaan terstruktur yang dilangsungkan pada diri kita sendiri? Disaat kita melakukan upaya mati-matian untuk mendapatkan maaf dari orang lain (jika terjadi kesalahan), pernahkah kita secara sadar dan tulus berharap untuk mendapatkan maaf dari diri kita sendiri?

Seberapa besar fokus yang kita curahkan untuk dapat memberikan kebahagiaan pada diri sendiri? Adakalanya orang akan bisa mendapatkan (nuansa) kebahagiaan juga ketika dia mampu membahagiakan orang lain, saya setuju dengan hal ini, tapi bagaimana jika upaya membahagiakan orang lain tersebut justru membuat kita abai dalam memberi fokus kebahagiaan pada diri sendiri dengan alih-alih pengorbanan, saya menyebutnya pengorbanan yang membabi buta. Berbeda dengan egotism, memberi fokus pada kebahagiaan diri sendiri tidak kemudian harus melanggar kepedulian diri kita terhadap orang lain atau justru menindas kebahagiaan orang lain dalam mendapatkannya.

Sahabat kedua kemudian berbicara tentang dua dari sekian elemen manusia yang diangkat dari gugusan astrologi, tanah yang statis dan air yang mengalir. Adakalanya tanah membutuhkan air untuk dapat tetap dikatakan subur, karena ada nutrisi di dalamnya. Tapi apa jadinya jika tanah itu kemudian mengering tanpa ada siraman air, atau katakanlah si air lebih suka untuk melebur dengan air lainnya dalam aliran yang sama di sebuah sungai deras berbatu tanpa pernah peduli dengan kondisi tanah yang perlu disirami. Tanah akan mengering dan air akan terus mengalir menjauh.

Laiknya hukum fisika, air akan selalu mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah dan posisinya akan berada di bawah posisi sebelumnya. Butuh gaya yang besar untuk dapat mengkondisikan hukum sebaliknya, atau butuh energi yang cukup besar pula untuk membuatnya naik dengan proses konversi bentuk untuk kemudian menempatkannya kembali berada diatas.

Tapi, hal penting untuk saya pahami dalam konteks ini, bagaimana membuat tanah tadi tidak kemudian mati atau menjadi gurun kering tak berpenghuni. Bersahabat dengan lingkungan, berharap ada udara yang membawa nutrisi dengan komposisi yang cukup untuk memperbaiki setiap luka yang pernah ada dan kembali hidup sedia kala. Itu saja.


Thanks to my best ever friends @adit_tio & @haneep

Categories:

Leave a Reply

Kotak komentar ini sengaja dibuat termoderasi, bukan untuk tujuan membatasi hak anda dalam berpendapat dan berekspresi, tapi lebih untuk menjaga kenyamanan kita bersama (khususnya saya sebagai pemilik blog ini) dalam menikmati kebebasan dunia maya :)