The Old Blog of Andiordi



Salahkan aku karena aku yang memintanya lebih dulu.
Tapi semuanya aku lakukan agar dia tidak lagi memandang hubungan ini hanya sebagai beban semata.
Aku begitu sayang padanya, dan aku tidak ingin hadir hanya untuk membuat hidupnya menjadi lebih rumit untuk dijalani oleh berbagai bentuk tuntutan untuk tetap menjaga komunikasi disaat jarak diantara kami berdua sangat rentan memunculkan luka.
Kutemukan beban ketika dia terpaksa harus membalas pesan singkat yang aku kirimkan di pagi hari.
Dan aku selalu tetap gembira jikapun harus ku terima balasannya pada malam hari bahkan kadang di hari berikutnya.
Masalah yang sedang ku hadapi seperti hilang sesaat itu juga dikala ku dengar suaranya dengan penuh semangat mengatakan, “Aku sayang kamu banget!”

Salahkan aku karena hidup ku saat ini tidak semudah dulu.
Kemudian membuat emosiku terombang-ambing antara bertahan hidup dan meninggalkan semuanya.
Hingga membuat aku menembusi jalan yang harusnya terlarang dalam komitmen kami berdua.
Kemudian dua bulan tanpa bicara.
Aku tersiksa, tapi aku jalani saja.

Salah siapa ketika kemudian segambaran mimpi membuat rindu yang aku punya sedemikian memuncaknya?
Ternyata hati ini tetap saja memiliki batas berani
Yang tadinya berani aku jalani kemudian seketika luruh dalam buliran siksa yang semakin menjadi.

Aku memintanya untuk kembali!
Terlambat, karena sudah ada sosok lain yang sedang diupayakan olehnya.
Hancur rasanya, hancur sehancur-hancurnya.
Aku tak berdaya...
Kemudian menjadi fakir pelukan yang selalu butuhkan dia.
Tak ada waktu untuk ku, ternyata ada banyak waktu untuk sosok lainnya.
Hati ku kemudian bertanya, ini salah siapa?

Tak terhitung sudah berapa banyak sesak yang pernah hadir dalam menit-menit yang telah lewat.
Tak terhitung sudah berapa banyak bulir air mata yang terpaksa harus mengalir ketika membayangkan dia dan kesayangan barunya.
Kadang aku harus bergegas mendapatkan bacaan yang menguras rasa agar tangis yang nantinya hadir tidak kemudian tertuju padanya.
Aku memuliakannya, yang aku tahu hanya bahagia yang boleh ku berikan padanya, tak boleh ada tangis dan air mata.

Inikah cinta?
Ketika yang saat ini ada cuma kenangan-kenangan bahagia bersama dia.
Aku rindukan dia, sungguh rindukan dia.
Yang bisa ku lakukan saat ini hanyalah jangan pernah mengganggu kebahagiaan barunya.



*just another fiction story*


Categories:

Leave a Reply

Kotak komentar ini sengaja dibuat termoderasi, bukan untuk tujuan membatasi hak anda dalam berpendapat dan berekspresi, tapi lebih untuk menjaga kenyamanan kita bersama (khususnya saya sebagai pemilik blog ini) dalam menikmati kebebasan dunia maya :)