The Old Blog of Andiordi

Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing, termasuk menjalani hidup sebagai heteroseksual setelah menyadari kesejatiannya sebagai homoseksual. Tapi, homoseksualitas bukanlah sebuah pilihan hidup, sama halnya tidak pernah ada pilihan hidup bagi setiap manusia untuk menjadi heteroseksual sebelum homoseksual atau menjadi homoseksual sebelum heteroseksual.

Dan bagi teman-teman heteroseksual tentunya, tidak sepantasnyalah untuk seolah-olah memberi pilihan jalan hidup 'terbaik' bagi homoseksual untuk hidup seperti jalan hidupnya atau kebanyakan orang. Tidak ada standard yang benar-benar umum untuk menentukan kebenaran sebuah jalan hidup, walaupun bagi kebanyakan orang mungkin akan lebih menggunakan ajaran agama dan normatifitas sebagai standard yang dianggap berlaku umum, tapi kembali lagi, kebenaran sebuah ajaran agama tidak juga berlaku umum bagi ajaran agama lainnya.

Ketika diterima sebagai hal yang tidak berlaku umum, tiap-tiapnya kemudian menggunakan militansi keagamaan sebagai alat untuk mengembalikan orang-orang homoseksual yang 'dianggap' telah melenceng dari ajaran agamanya masing-masing. Masing-masing militan melakukan aksi-aksi pengembalian ke jalan yang benar.

Diluar itu, dengan tinjauan berbagai faktor, hadirlah 'pilihan' agama-agama berdasarkan kategori progresif dan non-progresif, saya sebut pilihan karena kita ketahui bahwa tidak sedikit orang-orang disekitar kita yang lebih memilih untuk memeluk agama yang bukan agama ibunya setelah dia dewasa. Tidak sedikit yang berpindah karena penyesuaian terhadap kebutuhan hidup, tidak sedikit juga yang menganggap telah menemukan kebenaran spiritualitas yang lebih baik dari agama sebelumnya. Tidak juga melupakan orang-orang yang 'lebih memilih untuk tidak memilih' satu agama-pun dari pilihan-pilihan agama yang ada, mereka ada disekitar kita, baik secara terbuka maupun tidak terbuka. Walaupun pada agama tertentu, hak memilih agama telah dikunci mati dengan deretan stigma tertentu atau bahkan deretan hukuman berat yang menanti untuk dijalankan.

Catatan pertama, "Agama, 'bisa jadi' adalah sebuah pilihan jalan hidup, tapi homoseksualitas bukan pilihan hidup"

Memang masih belum ada kesepakatan mutlak dari para ilmuwan yang bisa membuktikan tentang, "Homosexuality: Nature or Nurture." Sebuah debat panjang yang masih sulit untuk menarik ujung pangkal solusinya, ada banyak sekali bukti-bukti tentang kealamiahan homoseksualitas, tapi tidak sedikit juga argumen-argumen masuk akal tentang homoseksualitas sebagai pola interaksi lingkungan. Tidak bedanya dengan pengkategorian homoseksual, murni dan bentukan, dengan menghadirkan bukti-bukti keberhasilan dari orang-orang homoseksual yang memilih jalan hidup sebagai heteroseksual. Benang merah yang bisa ditarik saat ini adalah, hidup manusia memang tidak secara mandiri dibentuk dari faktor-faktor alamiah saja atau interaksi lingkungan saja, tapi sinergi atas keduanya. Pada titik ini, apakah homoseksualitas masih bisa dianggap sebagai pilihan hidup?

Catatan kedua, "Setiap orang bebas memiliki pilihan jalan hidup, tapi homoseksualitas bukan pilihan hidup"

bersambung...

Categories:

Leave a Reply

Kotak komentar ini sengaja dibuat termoderasi, bukan untuk tujuan membatasi hak anda dalam berpendapat dan berekspresi, tapi lebih untuk menjaga kenyamanan kita bersama (khususnya saya sebagai pemilik blog ini) dalam menikmati kebebasan dunia maya :)