The Old Blog of Andiordi


Selamat Hari Kartini kepada seluruh wanita Indonesia, baik wanita utuh yang mendapat anugerah fisik dan kepribadian sebagai wanita, maupun para wanita berpenis yang juga punya hak untuk disebut wanita. Hak-hak anda memang patut untuk terus diperjuangkan.

Tulisan ini sudah cukup lama saya buat, yakni pada tanggal 21 April 2010. Tapi saya merasa perlu mengangkat lagi tulisan ini karena ada inspirasai didalamnya, tentunya dengan sedikit perbaikan karena gaya menulis saya ternyata sudah sedikit berubah dibanding ketika saya menerbitkan tulisan ini 3 tahun lalu :)

Raden Ajeng Kartini, seorang wanita yang patut untuk saya beri julukan The most inspirative woman ever. Saya secara acak memilih satu dari sekian banyak surat yang pernah beliau tulis dengan tujuan untuk dapat memahami kondisi beliau, berikut saya tuliskan kembali salah satu potongan suratnya:


Augustus 23, 1900. 

....
....
God heeft de vrouw geschapen als gezellin van den man, en de bestemming der vrouw is ‘t huwelijk. Goed, ‘t is niet te weerspreken, en gaarne erken ik, dat ‘t hoogste vrouwengeluk, ook eeuwen na deze, zal zijn: een harmonisch samenleven met den man! Maar hoe kan van een harmonisch samenleven sprake zijn, als onze huwelijkswetten zoo zijn, als ik je er een voorbeeld van beschreef? Moet ik als vanzelf niet het huwelijk haten, verachten, als het de vrouw zoo gruwelijk verongelijkt? Neen, gelukkig niet ieder Mohammedaan houdt er vier vrouwen op na, maar iedere getrouwde vrouw in onze wereld weet, dat zij zijne eenige niet is, en dat vandaag of morgen manlief haar een gezellin kan thuis brengen, die op hem evenveel rechten heeft als zij; volgens Mohammedaansche wet is zij ook zijn wettige vrouw. In de Gouvernementslanden hebben de vrouwen ‘t lang zoo hard niet te verantwoorden als hare zusters in de Vorstenlanden, Soerakarta en Djokjakarta. Hier zijn de vrouwen al doodongelukkig met een, twee, drie, vier bij-vrouwen van hare mannen; daar in de Vorstenlanden noemen de vrouwen dat kinderspel. Je vindt daar bijna geen enkele man, die maar één vrouw heeft; in de adellijke kringen, vooral in de omgeving van den Keizer, hebben de mannen tot over de 26 vrouwen.

Mogen deze toestanden voortbestaan, Stella?

Ze zijn er al zoo aan gewend, dat zij er niets meer in vinden, maar dat neemt niet weg, dat die vrouwen er ontzettend onder lijden. Bijna iedere vrouw, die ik ken hier, vervloekt dit recht der mannen. Maar verwenschingen helpen niets ; gehandeld moet er worden.

Komt, vrouwen, meisjes, staat op, reiken wij elkaar de handen en laten wij samen arbeiden, om verandering te brengen in die onhoudbare toestanden.



Dan berikut adalah hasil transliterasi dengan segala keterbatasan yang saya miliki, mohon dikoreksi jika ditemui kesalahan dalam proses penafsiran kalimatnya.


23 Agustus 1900.
...
...
Tuhan telah menciptakan wanita sebagai pendaping pria dan takdir untuk wanita adalah menikah. Sebenarnya, itu bukan hal yang patut disangkal, dan dengan senang hati saya menerimanya sebagai kebahagiaan tertinggi seorang wanita, bahkan berabad-abad setelah ini, pria dan wanita akan hidup berdampingan secara rukun! Tapi bagaimana mungkin ada kerukunan didalamnya, jika hukum pernikahan kami seperti itu, seperti yang telah saya gambarkan? Apakah saya kemudian tidak membenci pernikahan, merasa jijik, ketika melihat kondisi wanita terluka dengan cara yang sangat mengerikan? Tidak, untungnya tidak semua muslim memiliki empat istri, tapi disini setiap istri pasti mengerti bahwa mereka belum tentu selamanya menjadi satu-satunya milik suaminya, dan hari ini atau keesokan harinya bisa jadi teman suaminya tersebut boleh membawakan seseorang wanita lain kepadanya untuk kemudian mengambil hak-hak istrinya sebanyak mungkin, dalam Islam wanita itu juga istri yang sah. Di pemerintahan negara, para wanita hampir sangat sulit untuk tidak memberikan adik-adik perempuannya pada kerajaan-kerajaan, Soerakarta dan Djokjakarta. Disini para wanita sudah tidak lagi bahagia hidup bersama satu, dua, tiga, empat wanita lainnya yang menjadi istri suaminya, bahkan ada kerajaan yang menganggap bahwa perempuan itu seperti angin. Kamu akan bisa melihat, hampir semua bangsawan kecuali yang wanita, terutama yang dekat dengan Maha Raja, satu pria memiliki 26 wanita.

Akankah kondisi ini terus berlanjut, Stella?

Mereka sudah terbiasa menjadi ‘bukan siapa-siapa’ dalam kondisi itu, tapi tidak berarti kondisi tersebut membuat wanita-wanita itu menjadi sangat menderita. Hampir setiap wanita yang saya kenal mengatakan bahwa ini adalah hak mereka para pria-pria terkutuk. Tapi kutukan itu bisa sangat membantu menyadarkan para wanita untuk harus bertindak.

Mari, para wanita, para gadis, bangkitlah, kita raih tangan masing-masing untuk bersatu dan bekerja sama, mengubah kondisi yang tidak boleh dibiarkan seperti ini.


Saya tidak memiliki kapasitas yang cukup baik untuk mengkritisi pemikiran RA. Kartini, tapi yang menarik bagi saya adalah dikalimat terakhir beliau. Sangat terlihat, beliau memiliki semangat yang tinggi untuk merangkul para wanita dimasanya agar bisa bekerjasama bergerak menuju perubahan.

Kita memang harus berubah, kearah yang lebih baik tentunya...

-o0o-

Kemudian, menjelang Hari Kartini tahun ini banyak tersebar di media sosial tentang siapa yang lebih berhak untuk dikenang, apakah RA. Kartini atau Tjut Nyak Dien? Saya mendapati gambar dan tulisan ini dari Facebook Page Sejarah Aceh.

Mengapa Harus Kartini?


Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia? Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.

Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.

Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang ber inisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cut po Fatimah dari Aceh, klaim-klaim ke terbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia..., mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

Ditulis oleh Tiar Anwar Bachtiar



Saya pribadi tidak menangkap pesan yang cukup penting dalam tulisan diatas selain adanya kepentingan khusus atas nama golongan tertentu, yang jika disalah artikan akan membawa perpecahan dalam kesatuan negara kita.

Setiap pejuang memiliki caranya sendiri dalam menuntut hak yang diperjuangkan. Ada yang dilakukan secara fisik ada pula yang dilakukan dengan strategi lain, pena misalnya. Tjut Nyak Dien adalah pahlawan besar yang turut berjuang dalam merebut kemerdekaan di negara kita. Saya yakin, beliau melakukan hal tersebut tanpa pamrih, demikian halnya dengan para pejuang wanita lainnya. Kemudian dimasa kekinian, lahirlah orang-orang yang seakan memiliki hak mewakili beliau-beliau untuk meng-klaim siapa yang lebih berhak atas yang lainnya.

Saya pribadi setuju jika dibutuhkan telaah lanjut tentang peringatan hari-hari nasional, tapi menurut saya tidak cukup bijak jika harus diusung dengan cara membandingkan kontribusi peran diantara tokoh, terlebih dengan melampirkan ilustrasi yang seakan-akan secara satir menjatuhkan peran salah satu tokoh nasional.

Terlepas dari itu semua, Selamat Hari Kartini buat Indonesia.
Salam hormat untuk beliau-beliau para Pejuang Wanita Indonesia.

Categories: ,

Leave a Reply

Kotak komentar ini sengaja dibuat termoderasi, bukan untuk tujuan membatasi hak anda dalam berpendapat dan berekspresi, tapi lebih untuk menjaga kenyamanan kita bersama (khususnya saya sebagai pemilik blog ini) dalam menikmati kebebasan dunia maya :)