The Old Blog of Andiordi



Kemudian dia berlari ke sudut ruang dan menyendiri, menghantamkan pukulannya pada sebidang tembok berkali-kali dengan teriakan kesedihan yang sangat dalam. Tubuhnya jatuh terduduk melawan perih tak terperi, seraya membenturkan kepalanya, satu, dua, tiga, "Tuhan, siapa saya?"

Seberapa jauh kita mengenali diri kita? Seberapa jauh kita akan menerima diri kita apa adanya? Mampukah kita menerima diri jika bahkan kita sendiri tidak mengenali diri kita? Tidak sedikit orang yang ketika mendapati dirinya tidak sesuai dengan harapan kebanyakan orang justru menjadikan diri sendiri sebagai musuh terbesar dalam hidupnya.

Tidak sesuai dengan harapan kebanyakan orang, termasuk didalamnya orang-orang terdekat seperti keluarga, lingkungan, dan lain-lain. Belum lagi ketika hal yang tidak diharapkan itu dianggap bertentangan dengan norma kemasyarakatan dan agama, tentunya akan membuat tekanannya menjadi jauh lebih hebat. Pertempuran batin yang tidak pernah usai tiap harinya, digerogoti oleh kegelisahaan, hingga akhirnya memaksa diri untuk terus mengupayakan semaksimal mungkin menjadi bentukan pribadi seperti yang diharapkan orang lain.

Apa yang terjadi jika dalam hidup yang singkat dan hanya sekali ini hanya dijalani sebagai bentukan-bentukan pribadi dari orang lain, tidak menjadi diri sendiri?

Penyesalan! Menyesal karena hidupnya hanya diisi dengan proses-proses untuk memuaskan orang lain, menciptakan topeng semu untuk menjadi bentukan mainstream yang diharapkan orang lain, dan biasanya seiring dengan proses itu penyiksaan diri akan terus berlangsung, membohongi diri sendiri, dan semakin jauh dari penerimaan diri.

-o0o-

"Anjing!! lo homo yah?!"

Teriakan itu keluar dari mulut sahabatnya sendiri, membuat beberapa teman lainnya yang menginap bersama saat itu terperanjat bangun dan menatapnya dengan penuh tanya, beberapa yang lainnya menunjukkan wajah kekecewaan.

Kemudian dia berlari ke sudut ruang dan menyendiri, menghantamkan pukulannya pada sebidang tembok berkali-kali dengan teriakan kesedihan yang sangat dalam. Tubuhnya jatuh terduduk melawan perih tak terperi, seraya membenturkan kepalanya, satu, dua, tiga, "Tuhan, siapa saya?"

Sebuah bisikan menyejukkan tetiba terdengar dalam isak tangisnya, "berdamai dengan hati, berdamai dengan hati, berdamai dengan hati."



Image: Brian Kenney

Categories:

Leave a Reply

Kotak komentar ini sengaja dibuat termoderasi, bukan untuk tujuan membatasi hak anda dalam berpendapat dan berekspresi, tapi lebih untuk menjaga kenyamanan kita bersama (khususnya saya sebagai pemilik blog ini) dalam menikmati kebebasan dunia maya :)