The Old Blog of Andiordi

Semua yang memiliki awal akan menemui akhirnya
Semua yang dimulakan akan menemui titik selesainya
Tapi ini bukan tentang menulis yang menemui akhir dan titik selesainya
Karena sejatinya tulisan akan tetap hidup jikapun penulisnya telah tiada...

Ini tentang ruang nyaman yang tidak lagi seperti sedianya
Di sini pernah ada cinta
Di sini pernah ada bahagia, tangisan, dan suara luka
Hidup tidak semestinya ada di suasana yang sama untuk waktu yang lama
Untuk kebahagiaan yang tetap terjaga

Aku beranjak
Temui aku di tempat baruku
Mungkin aku tidak akan pernah menunggu
Jikapun tidak sama seperti biasanya,
Di sana, akan selalu ada tempat untukmu...

Read More …





"Tantangan terbesar dalam mengarungi kehidupan berelasi pada manusia yang tumbuh adalah disaat membiarkan kedewasaan relasi tersebut ikut bertumbuh bersama kedewasaan orang-orang yang menjalaninya"
Read More …





"Sudah ada cinta sebenarnya, tapi..."
"Ya tapi apa?"
"Entahlah, saya pun bingung untuk ungkapkan apa yang aku rasa"

Begini saja, selesaikan dulu urusanmu dan aku selesaikan urusanku, setelah masing-masing kita tengah siap, kita bisa memulai jalan yang kita inginkan tanpa harus lagi menengok ke belakang untuk menatap gelap yang menaungi hidup kita saat ini.

Tidak gunanya juga aku memaksa, jalannya sudah mulai terbuka, biarkan semesta yang menyelesaikan sisanya...
Read More …





Agak sedikit ragu sebenarnya ketika aku memberanikan diri menempatkan hari-hari berjalan tidak boleh diisi dengan kegalauan seharipun, bahkan disaat kita belum punya sedikit waktu untuk bisa bertatap wajah, dan disaat hati-hati kita masih terbilang unstable emotionally atas kondisi kita masing-masing. 

Tapi setidaknya, ini adalah titik awal positif untuk aku memasuki fase lain dalam hidup aku dan meninggalkan fase sebelumnya yang telah dengan tidak sadar aku langgengkan bersama segala bentuk suasana hati yang haru biru dengan varian aura negatifnya yang mendominasi berganti-gantian.

Tidak sehat, tidak sehat untuk aku dan tidak sehat untuk orang-orang yang ada di lingkungan aku.

Hidup aku yang penuh kegundahan butuh penyelesaian pada masing-masing ritmenya yang tidak  beraturan. Bukan, bukan karena aku menyukai kemonotonan, tapi ritme yang kacau itu, ya sebut saja kacau karena memang halnya tidak terbaca memiliki tren dan pola. Ritme yang kacau itu membuat aku sudah sangat lelah dengan apa yang aku jalani sekarang. Aku butuh ritme hidup yang tren dan polanya lebih terarah pada tujuan-tujuan yang jelas, dan titik awal penyelesaiannya ada di sini #MenunjukHati#.

Aku perlu berbenah hati. Dan kamu, kali ini kamu yang menjadi basis untuk aku bisa berbenah hati dan menghapus semua luka yang ada. Aku sudah terlanjur menaruh harap sebenarnya, mungkin terlalu cepat, harapannya kamulah pilihan yang tepat.

Hari ke-3 di #7HariTanpaGalau, kita sudah mulai memasuki obrolan hati sebelum akhirnya kita punya waktu yang lebih panjang untuk bisa saling membaca lebih dalam tentang siapa dan bagaimana masing-masing kita. 3 hari dengan ritme yang cukup menyenangkan, tren eksponensial dengan pola yang cukup teratur. Sekali lagi, aku agak sedikit khawatir sebenarnya, karena seperti ada katalis yang membuat prosesnya terakselerasi sempurna. Dan katalisnya adalah kehausan kita untuk merasakan cinta yang sesungguhnya, semoga bukan justru pelampiasan dari kelamnya masa lalu kita.

#7HariTanpaGalau, hari ke-3: kamu bilang, “Jujur, aku merasakan kenyamanan itu”.
Read More …




Saya sadar, setiap orang memiliki cara-cara yang berbeda dalam menempatkan orang-orang yang pernah melewati fase hidup tertentu dalam perjalanan kehidupannya. Sayapun demikian, adakalanya saya perlu menempatkan orang-orang tersayang yang pernah memberi kesan mendalam dalam hidup saya pada ruang-ruang khusus dalam lubuk hati saya. Hingga saatnya saya butuh menemui mereka kembali, saya tinggal memasuki ruang-ruang itu untuk memeluk mereka sesaat saja kemudian kembali memasuki kehidupan nyata. Termasuk didalamnya, keluarga saya yang telah pergi mendahului saya, sahabat-sahabat saya yang sedang menjalani kehidupannya di kejauhan sana, teman-teman terbaik yang pernah memberi saat berbagi hidup dan kebahagiaan, dan masih banyak lagi lainnya.

Kemudian, bagaimana dengan bekas pacar?

Agak dilematis sebenarnya, disatu sisi mereka pernah menjadi bagian hidup saya dalam saat-saat bahagia, tapi kemudian mereka terkalahkan oleh skenario hidup yang menuntut mereka memilih tetap bersama saya memasuki ritme hidup lainnya atau mencari kebahagiaan lain dengan meninggalkan saya. Dan mereka kemudian terlabeli sebagai bekas pacar karena mereka memilih pilihan kedua dengan merelakan saya menjalani fase hidup saya tanpa mereka.

Tapi ternyata, berpindah fase dari hidup bersama ke fase berikutnya yang tanpa mereka memang harus dilalui dengan jalan yang sangat-sangat tidak mudah, boleh dikata untuk fase saya bahkan harus dilalui dengan cabikan-cabikan luka yang kadang membuat saya sangat sulit untuk menjalani kehidupan berikutnya. 

Dalam kondisi ini bagaimana saya menempatkan mereka?

Sebuah buku yang direkomendasikan oleh teman saya berkata, "Satu hal yang harus kita lakukan ketika orang yang dekat dengan kita melakukan kesalahan adalah melihat kembali dia secara keseluruhan. Jika ini adalah kesalahan yang tidak fatal dan terlalu besar, berarti seharusnya tidak masalah. Ada begitu banyak kebaikan darinya yang tentu saja kalau dihitung akan menang telak daripada keburukannya." Memaafkan, mungkin itu kata yang tepat untuk menggantikan kalimat panjang yang saya tulis sebelumnya.

Oke, ambil saja contoh bekas pacar saya yang terakhir ini, saya mencoba melihat kembali dan menelusuri jalan-jalan yang pernah dilewati bersama untuk melihat kisah hidup kami agar dapat dipahami keseluruhannya. 

Dia hadir meminta pelukan disaat 'menurutnya' fase hidupnya sedang berada di nadir terbawah roda kehidupannya, saya kemudian masuk untuk memenuhi kebutuhannya, pelukan, dengan balutan cinta tentunya, cinta saya yang sangat besar hingga membuat saya harus menutup pintu rapat-rapat pada orang-orang yang kala itu sedang mendekati saya dengan berbagai upayanya. Dia menanamkan sebuah paradigma bahwa dia akan berbeda dengan yang lainnya, dan saya hanya bisa berharap semoga itu bukan janji ilusi untuk mengimbangi cinta yang saya punya.

Fase berikutnya terlihat dia juga mulai mencintai saya, maksud saya bukan atas dasar kebutuhan 'pelukan' tadi tentunya, dan dalam fase ini mulai terasa ada alur naik turun laiknya kurva sinus-cosinus yang saat itu seakan sedang melalui jalur yang kontinum. 

Hingga akhirnya kami memasuki fase 'terserah saya', ya memang benar-benar terserah saya, saya yang dimaksud disini adalah literally saya. Artinya, kalo saya masih tahan mari dilanjutkan dan kalau sudah tidak tahan ya silakan tinggalkan, dengan beberapa konsensus baru ketika harus dilanjutkan antara lain; siap untuk ditempatkan diprioritas terakhir karena dia sedang sangat super sibuk dengan aktifitas menyenangkan yang dia punya, siap untuk tidak didengarkan keluhannya, siap untuk tidak dipenuhi kebutuhannya, siap untuk dianggap tidak ada, dan lain-lain-lain sebagainya. Dan sayangnya, saat itu adalah giliran saya yang sedang memasuki fase nadir terbawah dalam kehidupan saya dan saya sangat membutuhkan pelukan dia untuk bisa bangkit kembali menjalani kehidupan berikutnya. 

Kemudian dia pergi, dan yang lebih menyakitkan, dalam kondisinya yang sibuk (katanya pada saya), dia justru mampu mampu memberi prioritas tidak terakhir pada orang barunya. Hahaha... ternyata sibuk yang dia maksud adalah bosan rupanya :)

Bagaimana menempatkan dia dalam hidup saya setelahnya?

Dia pernah berkata, "sebaiknya kita tetap berteman saja." dan hati saya berkata, "setelah semua perih yang dia berikan kepada saya? masih mau berteman saja??"

Dia mengakui betapa menyakitinya apa yang dia lakukan kepada saya, tapi dalam tulisan yang sama dia juga merasa tidak perlu meminta maaf kepada saya, bahkan dia berkata tidak akan pernah meminta maaf, karena sedianya saya sudah memahami tabiatnya yang enggan untuk melakukan permintaan maaf.

Hati saya kembali berkata, "setelah semua perih yang dia berikan kepada saya? masih mau berteman saja??"

Tapi dalam buku itu disebutkan saya harus punya kemampuan untuk bisa memaafkan agar dapat melalui hidup berikutnya dengan damai. Saya berusaha untuk mendamaikan hati, rasa, dan pikir yang ada dalam tubuh saya, ketiganya bersepakat untuk memaafkan tapi juga meninggalkan. Bagi mereka yang harus ditinggalkan, tidak perlu ada ruang khusus yang harus saya sediakan di lubuk hati saya.

Artinya apa?

Artinya, bekas pacar tidak akan pernah berevolusi menjadi teman saya, tidak juga sahabat tentunya :)


-sekian-
10 November 2013 00:53
Read More …





Tertulis pada: 28 September 2010

Dan dia telah berhasil membuat saya termanipulasi
Oh, bukan… saya yang membiarkan diri saya termanipulasi olehnya
Tapi dia selalu mampu membuat saya sulit berkata-kata
Oke… maksud saya sulit untuk menuliskan kata-kata
Saya tersudut!!
Dan seperti yang telah saya kata, saya suka disudutkan kemudian ditelanjangi, dengan peluh tak bertenaga, dia membuka semua yang ada pada saya, kemudian memandangi tubuh saya dan menyusuri semuanya.

Ketahuilah, saya bukan siapa-siapa dan tak pernah menjadi apa-apa, saya hanya takut dia kecewa karena ekspektasi maya atau keterpaksaan semata. Sungguh, itu akan membuat saya tak berdaya atau mungkin mati muda.

Tango apasionado, he is so perfecto…

Siapalah saya yang hanya bisa tertawa dibalik jeruji tak nyata dunia kaca, menertawakan jutaan kata yang coba kubuatpun tak bisa. Karena saya hanyalah saya, si pria lugu nan banyak cela, bersenjatakan jiwa dan sarung batik warisan ayah saya. Oh ya, saya tidak punya apa-apa…

Tango apasionado, I do, I do love him so…

Entah mengapa jantung ini berdetak lebih cepat, sesaat setelah mengatakannya. Jiwa ini seakan melayang mencari-cari jalan untuk sampai ketempat semulanya, saya telah menjadi gila rupanya…
Sungguh, saya inginkan seseorang memeluk saya sekarang juga, sekarang juga, tidak mau tertunda, apalagi sampai hari lusa…

Saya maukan dia disini disebelah saya, hingga semuanya kembali berjalan seperti adanya. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang saya rasa.
Oh, tidak… saya yang memulanya, harusnya saya juga yang membuatnya menjadi indah seperti yang saya minta…

Saya hanya berharap, semoga dia benar-benar untuk saya, bukan untuk siapa-siapa.



Tango Apasionado adalah sebuah musik instrumental buah karya Astor Piazzolla, menjadi soundtrack film favorite saya Happy Together yang diperankan oleh Tony Leung dan Leslie Cheung.

Untuk pria yang kala itu pernah ada dan menjadi inspirasi tulisan saya, maafkan saya karena lebih memilih dia yang akhirnya meninggalkan saya. Bukan penyesalan yang sekarang ada, ini hanya untuk mengapresiasi cinta yang dulu tumbuh dengan tidak sengaja diantara kita. 29/10/13 01:11
Read More …



Ketika ditanya, "Apakah kamu yakin pada eksistensi Ketuhanan?", Saya akan seketika menjawab, "Ya, Saya meyakini eksistensi Ketuhanan." 

Apa alasannya?

Karena saya melihatnya dari bagaimana manusia berperilaku ketika dihadapkan pada kondisi luar biasa. Manusia akan cenderung memanifestasi eksistensi ketuhanannya pada hal tertentu yang diyakininya 'tak terbantahkan' sebagai Tuhan, itu eksistensi Ketuhanan menurut saya.

Bagaimana ketika kondisinya TIDAK luar biasa?

Manusia hanya (cenderung) meminggirkan eksistensinya.


Kemudian ketika ditanya, "Apakah kamu yakin pada eksistensi Tuhan?", tentu saja tanpa juga harus berpikir panjang saya akan menjawab, "Ya, Saya juga meyakini eksistensi Tuhan."

Apa alasannya?

Bukan karena Dia (yang) selalu menjawab doa-doa saya atau sebaliknya, atau 'katanya' lebih suka memberi yang dibutuhkan ketimbang yang diinginkan, tapi karena saya (ingin) mengakui Dia ada dan (akan) harus selalu ada, ada atau tidak adanya saya.

Bagaimana jika itu dianggap bahwa kamu sedang MENUHANKAN delusi?

Setiap orang menuhankan apa yang diyakininya (ternama ataupun tidak ternama) sebagai Tuhan. Dan yang meyakini ketiadaan Tuhan, sejatinya (dalam posisi tak terbantahkan) akan meninggikan argumentasi keyakinannya tentang ketidak-yakinannya bahwa Tuhan ada /dengan kata lain/ menuhankan ketidak-yakinannya bahwa Tuhan ada /atau/ (tidak diakui) sedang menuhankan keyakinannya tentang ketiadaan Tuhan/ berketuhanan tanpa memanifestasikan eksistensi Tuhan-nya. Demikian sebaliknya. Dan saya melepas diri dari pandangan berbeda orang lain yang diyakininya sebagai tak terbantahkan.


Apakah manusia bermoral karena Tuhan?

Manusia bermoral bukan karena Tuhan, tapi karena keyakinannya pada hukum atraksi dengan atau tanpa berlandaskan Ketuhanan.



Disclaimer: QA ini hanya untuk konsumsi pribadi
sebagai manifestasi keingin-tahuan dan kebebasan berpikir!
Read More …